Sabtu, 25 April 2015

Arthur Schopenhauer


Arthur Schopenhauer atau yang lebih dikenal dengan nama Schopenhauer, ialah seorang pemikir atau  filsuf Idealisme Jerman yang melanjutkan tradisi filsafat pasca-Kant. Dialah yang pertama kali membuka mata terhadap bagian dalam yang gelap dari manusia, yang ada di bawah permukaan kesadaran. Selain itu, Schopenhauer untuk pertama kalinya juga membuka jalan bagi suatu filsafat dan suatu psikologi dari hal yang tak sadar.

Arthur Schonpenhauer adalah putra dari Heinrich Floris dan Johanna Schopenhauer. Lahir dari keluarga bangsawan dan keturunan orang kaya. 

Pada tahun 1809, Schopenhauer menjadi mahasiswa di Universitas Gottingen. Dibawah bimbingan Gotlob Ernest Schulze, dia belajar tentang metafisika dan psikologi. Pada tahun 1811 dia mengikuti kuliah seorang filsuf post Kant terkemuka, Johanna Gottlieb Fiechte dan belajar dari seorang teolog Friedrich Schleimachher.

Dalam perkembangan filsafat Schopenhauer, ia dipengaruhi dengan kuat oleh Kant dan juga pandangan Buddha. Pemikiran Kant nampak di dalam pandangan Schopenhauer tentang dunia sebagai ide dan kehendak. Kant menyatakan bahwa pengetahuan manusia terbatas pada bidang penampakan atau fenomena, sehingga benda-pada-dirinya-sendiri (das Ding an sich) tidak pernah bisa diketahui manusia. Misalnya, apa yang manusia ketahui tentang pohon bukanlah pohon itu sendiri, melainkan gagasan orang itu tentang pohon. Schopenhauer mengembangkan pemikiran Kant tersebut dengan menyatakan bahwa benda-pada-dirinya-sendiri itu bisa diketahui, yakni kehendak.

Pada tahun 1860 dengan usia 72 tahun, keadaan Schopenhauer mulai memburuk. Dia pun meninggal pada tanggal 21 September 1860 karena gagal jantung, ketika duduk di bangku sekitar rumahnya. 

Jumat, 10 April 2015

Aku berfikir, maka aku ada - Corgito Ergo Sum

Corgito Ergo Sum atau yang lebih dikenal dengan -aku berfikir, maka aku ada- adalah sebuah pemikiran yang dihasilkan oleh Rene Descartes. Pemikiran tersebut dihasilkan melalui sebuah meditasi keraguan yang mana pada awalnya Descartes digelisahkan oleh ketidakpastian pemikiran Skolastik dalam menghadapi hasil-hasil ilmu positif renaissance. Oleh karena itu untuk memperoleh kebenaran pasti Descartes mempunyai metode sendiri. Itu terjadi karena Descartes berpendapat bahwa dalam mempelajari filsafat diperlukan metode tersendiri agar hasil-hasilnya benar-benar logis. Pemikiran ini dimulai dari metode penyangsian yaitu metode keragu-raguan. Jika orang ragu terhadap segala sesuatu, dalam keragu-raguan itu, jelas ia sedang berfikir. Sebab, yang sedang berfikir tentu ada dan jelas.


Metode penyangsian ini dijalankan seradikal mungkin. Oleh karenanya kesangsian ini harus meliputi seluruh pengetahuan yang dimiliki termasuk juga kebenaran-kebenaran yang sampai kini dianggap pasti (misalnya : bahwa ada suatu dunia, bahwa saya mempunyai tubuh, bahwa Tuhan ada). Kalau terdapat suatu kebenaran yang tahan dalam kesangsian yang radikal itu, maka itulah kebenaran yang benar pasti dan harus dijadikan fundamen bagi seluruh ilmu pengetahuan.

Adakah huruf yang kita baca ini nyata adanya ? Ia nyata karena kita memiliki mata untuk membacanya, atau karena adanya cahaya sehingga huruf ini menampakkan adanya bagi kita atau huruf huruf ini ada dengan sendirinya ? Jika segala sesuatu dapat diragukan secara radikal , terdapat satu hal yang harus diyakini keberadaannya yaitu keberadaan bahwa aku yang meragukan segala sesuatu ini ada !" jadi orang bisa menyangkal segala sesuatu , tapi tidak bisa menyangkal dirinya sendiri. Dari sinilah Descartes berseru "Aku berpikir maka aku ada"

Pemikiran Cogito Ergo Sum ini kemudian membawa Descartes pada pertanyaan apakah masih ada lagi yang dapat ditangkapnya dengan kepastian intuitif yang sama. Descartes sampai pada kesimpulan bahwa dalam pikirannya dia mempunyai gagasan yang jelas dan terang mengenai wujud yang sempurna. Gagasan itu selalu disimpan oleh Descrates dan sangat jelas bainya bahwa gagasan semacam itu tidak mungkin berasal dari dirinya sendiri. Gagasan mengenai wujud yang sempurna tidak mungkin berasal dari orang yang sendirinya tidak sempurna. Karena itu gagasan mengenai wujud yang sempurna berasal dari wujud yang sempurna itu sendiri, dengan kata lain berasal dari Tuhan, karena itu menurut Descartes pernyataan bahwa Tuhan itu ada menjadi jelas dengan sendirinya, sebagaimanan seorang makhluk yang berpikir itu pasti ada.

Decrates tidak meragukan bahwa ia sedang berfikir. Seperti apa yang disebutkan Plato dalam pemikirannya, bahwa apa yang kita tangkap dengan akal kita itu lebih nyata dari apa yang kita tangkap dengan indra kita. Demikianlah halnya dengan Descartes, ia bukan hanya tahu bahwa ia adalah seorang , aku yang berfikir, diapun menyadari bahwa aku yang berfikir ini lebih nyata daripada dunia materi yang kita tangkap dengan indra-indra kita. Hakikat manusia terletak pada kesadarannya yaitu kemampuan untuk berpikir, meragukan dan memahami segala sesuatu. ketika kita tidak mengerti, ketika kita meragukan disitulah kita berpikir. Karena kita berpikir maka kita ada.