|
Corgito Ergo Sum atau yang lebih dikenal dengan -aku berfikir, maka aku ada- adalah sebuah pemikiran yang dihasilkan oleh Rene Descartes. Pemikiran tersebut dihasilkan melalui sebuah meditasi keraguan yang mana pada awalnya Descartes digelisahkan oleh ketidakpastian pemikiran Skolastik dalam menghadapi hasil-hasil ilmu positif renaissance. Oleh karena itu untuk memperoleh kebenaran pasti Descartes mempunyai metode sendiri. Itu terjadi karena Descartes berpendapat bahwa dalam mempelajari filsafat diperlukan metode tersendiri agar hasil-hasilnya benar-benar logis. Pemikiran ini dimulai dari metode penyangsian yaitu metode keragu-raguan. Jika orang ragu terhadap segala sesuatu, dalam keragu-raguan itu, jelas ia sedang berfikir. Sebab, yang sedang berfikir tentu ada dan jelas. Metode penyangsian ini dijalankan seradikal mungkin. Oleh karenanya kesangsian ini harus meliputi seluruh pengetahuan yang dimiliki termasuk juga kebenaran-kebenaran yang sampai kini dianggap pasti (misalnya : bahwa ada suatu dunia, bahwa saya mempunyai tubuh, bahwa Tuhan ada). Kalau terdapat suatu kebenaran yang tahan dalam kesangsian yang radikal itu, maka itulah kebenaran yang benar pasti dan harus dijadikan fundamen bagi seluruh ilmu pengetahuan. Adakah huruf yang kita baca ini nyata adanya ? Ia nyata karena kita memiliki mata untuk membacanya, atau karena adanya cahaya sehingga huruf ini menampakkan adanya bagi kita atau huruf huruf ini ada dengan sendirinya ? Jika segala sesuatu dapat diragukan secara radikal , terdapat satu hal yang harus diyakini keberadaannya yaitu keberadaan bahwa aku yang meragukan segala sesuatu ini ada !" jadi orang bisa menyangkal segala sesuatu , tapi tidak bisa menyangkal dirinya sendiri. Dari sinilah Descartes berseru "Aku berpikir maka aku ada" Pemikiran Cogito Ergo Sum ini kemudian membawa Descartes pada pertanyaan apakah masih ada lagi yang dapat ditangkapnya dengan kepastian intuitif yang sama. Descartes sampai pada kesimpulan bahwa dalam pikirannya dia mempunyai gagasan yang jelas dan terang mengenai wujud yang sempurna. Gagasan itu selalu disimpan oleh Descrates dan sangat jelas bainya bahwa gagasan semacam itu tidak mungkin berasal dari dirinya sendiri. Gagasan mengenai wujud yang sempurna tidak mungkin berasal dari orang yang sendirinya tidak sempurna. Karena itu gagasan mengenai wujud yang sempurna berasal dari wujud yang sempurna itu sendiri, dengan kata lain berasal dari Tuhan, karena itu menurut Descartes pernyataan bahwa Tuhan itu ada menjadi jelas dengan sendirinya, sebagaimanan seorang makhluk yang berpikir itu pasti ada. Decrates tidak meragukan bahwa ia sedang berfikir. Seperti apa yang disebutkan Plato dalam pemikirannya, bahwa apa yang kita tangkap dengan akal kita itu lebih nyata dari apa yang kita tangkap dengan indra kita. Demikianlah halnya dengan Descartes, ia bukan hanya tahu bahwa ia adalah seorang , aku yang berfikir, diapun menyadari bahwa aku yang berfikir ini lebih nyata daripada dunia materi yang kita tangkap dengan indra-indra kita. Hakikat manusia terletak pada kesadarannya yaitu kemampuan untuk berpikir, meragukan dan memahami segala sesuatu. ketika kita tidak mengerti, ketika kita meragukan disitulah kita berpikir. Karena kita berpikir maka kita ada. |
Jumat, 10 April 2015
Aku berfikir, maka aku ada - Corgito Ergo Sum
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar